Login

Register

Login

Register

Bisnis Fashion 24/7

Bisnis fashion menuntut komitmen dan kerja keras.Tingginya persaingan di industri fashion tidak saja menuntut seorang desainer menghasilkan pakaian dan service berkualitas, juga mampu menjalankan bisnis dengan baik, yang senantiasa mengikuti perkembangan jaman.

Bisnis fashion menuntut komitmen dan kerja keras. “Running a fashion business means that packing boxes at 2 am, steaming clothes over and over again, and pouring through receipts with an accountant will become part of your routine,” kata Imran Amed, pendiri The Business of Fashion. Tidak lebih dari 10% waktu yang dimiliki seorang desainer untuk membuat desain. Sebagian besar habis untuk mengelola produksi, distribusi, pemasaran, keuangan, mengurus pekerja, rapat dengan ritel, berhubungan dengan media sambil terus berharap kerja keras itu akan membawa hasil baik. “You will eat, live and breathe your business 24/7,” kata Imran.

Itulah kenyataan di balik industri fashion yang sekilas tampak mewah, sarat hiburan dan kesenangan. Tidak sedikit kalangan muda ramai-ramai mendirikan  independent brand dengan modal cukup besar lantas menyerah dalam waktu cukup singkat. Tidak sedikit pula desainer-desainer yang tampak sukses diekspos media tapi tersandung-sandung dalam soal bisnis.

Industri Fashion: Hyper Competitive

Kenyataan seperti itu tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di negara-negara yang industrinya sudah maju. Di Inggris dan Amerika Serikat misalnya, desainer-desainer baru lulusan sekolah fashionberkualitas tak lepas dari persoalan serupa. Berdasarkan kajian The Business of Fashion, terdapat jurang antara daya kreativitas dan kemampuan menjalankan bisnis.

Tingginya persaingan di industri fashion tidak saja menuntut seorang desainer menghasilkan produk dan service berkualitas, juga menjalankan bisnisnya dengan baik. Tutupnya Jonathan Saunders (Desember 2015) dan beberapa label fashiondi Amerika dan Inggris menjadi contoh bahwa kenyataan pahit dalam bisnis fashion bisa menimpa siapapun. Termasuk brand setua Schiaparelli (Paris, Perancis) yang sempat absen mengeluarkan koleksi houte couture selama 60 tahun (Alexander Fury, Italian Renaissance: The House of Schiaparelli is Relaunching after 60 Years with a Haute Couture Collection).

Brands Boom

Dibanding 15 hingga 20 tahun silam fashion Indonesia sudah mengalami perkembangan. Minat orang terhadap bisnis fashion menunjukkan peningkatan seiring dengan bermunculannya merek-merek baru. Sekolah dan studi jurusan fashion terus bertambah. Begitu pun pagelaran fashion dan ajang kompetisi desain. Beberapa di antaranya berhasil mengantarkan desainer-desainer muda potensial menjadi sorotan media dan tampil ke hadapan publik. Itu adalah perkembangan positif yang perlu ditindaklanjuti dengan dukungan pengembangan bisnisnya.

Dewasa ini kesempatan untuk membangun brand fashion kian terbuka lebar. Tak terkecuali bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan fashion. Didorong oleh perkembangan internet, tak sedikit orang yang mulanya konsumen tergerak mendirikan brand dan membuka online shop. Beberapa di antaranya meraih sukses dan merangsang semangat kewirausahaan, tapi sebagian besar hilang tanpa kabar, atau berada dalam kondisi ‘hidup enggan mati tak mau’.

Tak seorang pun yang berminat menjalani bisnis fashion menghendaki kehancuran. Namun, masih sedikit yang mampu berpikir dan bertindak tepat untuk menghindari itu. Bisnis fashion adalah usaha membangun keseimbangan antara kepentingan meraih keuntungan dengan kemampuan membuat produk dan service berkualitas yang bisa diterima banyak orang. Membangun brand adalah usaha menawarkan sesuatu yang berbeda dan mentransformasikan cita rasa pasar sesuai idealisme yang hendak diwujudkan.

Anda punya pertanyaan atau tanggapan atas artikel di atas, sampaikan pada kami!

Fields marked with a * are required

Topik Terkait