Login

Register

Login

Register

Dua Sisi Mata Uang Toko Daring

Menjalani proses bisnis toko daring (dalam jaringan/online) jauh lebih sulit dibanding membangun toko daringnya itu sendiri. Dan operasionalisasi toko daring bergantung pada serangkaian kegiatan offline. Offline dan online dalam proses bisnis toko daring ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Sejak enam bulan terakhir Shanty (bukan nama sebenarnya) aktif memasarkan pakaian perempuan hasil kreasi kawannya melalui Blogspot dan Facebook. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah bank di Jakarta, dia masih sempat melayani pelanggannya melalui perangkat smartphone dan tablet.

“Mudah, cepat, dan efisien.” kata dia. Saya cukup memotret produk dengan smartphone, upload ke blog dan Facebook, sebar informasi ke pelanggan, selesai. Saya tinggal tunggu order. Hasilnya lumayan,” tambahnya, tampak senang.

Usaha Shanty tidak berhenti sampai di situ, dia ingin mengembangkannya lebih serius lagi. Kini dia berencana membangun toko daring (dalam jaringan/online) seperti yang kerap diusulkan para pelanggan dan koleganya.

Keinginannya saya sambut gembira. Namun, sebelum dapat membantu merealisasikannya, terlebih dahulu saya ajak dia bertukar pikiran tentang toko daring yang dia bayangkan. Hal itu penting, karena berdasarkan pengalaman, tidak semua orang yang ingin membuka toko daring memiliki pemahaman cukup baik tentang itu.

Ketika saya tanyakan itu, Shanty menanggapinya dengan menunjukkan toko daring favoritnya, Moda Operandi. “Saya ingin disain simple dan elegan seperti itu,” katanya.

Kemudian dia menunjukkan beberapa fiturnya. Foto produk bisa di-zoom, bisa di-share ke media-media sosial dan email, ada icon pilihan warna dan size guide, bisa melakukan pencarian produk berdasarkan warna, ukuran, jenis produk, dan harga. Selain itu, pelanggan juga bisa menulis product review, mengirim wishlist produk, menerima newsletter, dan memiliki fitur reward point bagi pelanggan. Cara pembayaran dapat dilakukan melalui paypal, kartu kredit, transfer bank, dan cash ond delevery.

Tak hanya itu. Shanty pun ingin toko daringnya tampil di halaman pertama Google untuk pencarian dengan kata kunci tertentu.

Selesai menyampaikan keinginannya, dia langsung “menodong” saya dengan pertanyaan. “Kalau bikin yang seperti itu berapa biayanya? Atau berapa kisarannya?”

Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaannya sebelum memiliki gambaran cukup rinci lagi tentang fitur toko daring yang akan dibangun. Gambaran visual tadi harus diterjemahkan ke dalam bahasa teknis pengembangan e-commerce, sehingga menjadi jelas lingkup pekerjaan dan tingkat kesulitannya. Setelah itu baru bisa ditentukan biayanya.

Tetapi, untuk saat ini sebaiknya kita jangan terburu-buru membahas soal biaya. Lebih baik kita mengenali lebih jauh lagi apa dan bagaimana toko daring sebelum terlanjur membangunnya tanpa disertai kesiapan menjalaninya. Kita harus membuat perencanaan matang untuk itu. Jangan sampai membuang uang dan tenaga untuk hal yang belum siap kita lakukan.

“Saya rasa sudah cukup jelas. Soal pengelolaan toko daring, saya sudah terbiasa mengelola konten blog. Untuk marketing, saya bisa memanfaatkan jaringan pertemanan saya di media-media sosial dan kawan-kawan blogger. Saya bisa melakukannya sendiri dimanapun, kapanpun. Apalagi sekarang, koneksi internet ada dimana-mana. Saya bisa mengelola toko daring dari rumah, kantor atau cafe, bahkan di tengah kemacetan,” katanya optimis.

Shanty adalah satu dari sekian banyak orang yang menganggap pengelolaan toko daring sama dengan mengelola konten blog. Cukup dengan mengunggah foto produk dan keterangannya ke website. Dia tahu fitur-fitur toko daring profesional dari pengalamannya berbelanja di internet, tetapi belum memiliki gambaran jelas tentang toko daring, bagaimana mengelolanya, dan kaitannya dengan aktivitas offline dalam rangkaian sebuah proses bisnis.

Proses Bisnis Toko Daring

Ada (bahkan mungkin banyak) pedapat yang menyebutkan bahwa mengelola toko daring jauh lebih mudah dibanding toko konvensional. Pendapat itu keliru, karena tidak melihat operasionalisasi toko daring sebagai sebuah proses bisnis.

Proses bisnis adalah rangkaian kegiatan/pekerjaan terstruktur yang saling terkait untuk menghasilkan produk atau layanan tertentu bagi pelanggan.

Proses bisnis toko daring dapat dipilah menjadi tiga tahap (bagian): pra-pemasaran (kegiatan offline), pemasaran (kegiatan online) dan pengiriman barang (kegiatan offline).

Dua dari tiga tahapan tersebut adalah kegiatan offline. Ketiganya harus berjalan sinergis agar toko daring beroperasi dengan baik. Dan penting diingat, meski namanya toko daring, operasionalisasinya bergantung pada serangkaian kegiatan offline.

Ada tiga tahapan pekerjaan offline yang harus dilalui sebelum kita menampilkan barang yang akan dijual di toko daring. Pencatatan barang masuk, penyusunan stock keeping unit, dan perumusan product overview.

Pencatatan barang masuk adalah pendokumentasian semua barang yang masuk gudang. Penyusunan stock keeping unit (SKU) adalah pembuatan kode unik untuk setiap barang. Tujuannya untuk memudahkan pengidentifikasian jenis barang berdasarkan merek, model, warna, ukuran, peruntukkan dan bahannya. Satu jenis barang, misalnya sepatu dengan model dan merek sama (apalagi berbeda) akan memiliki SKU yang berbeda bila memiliki warna, peruntukkan, ukuran, dan bahan yang berbeda.

Contoh rumus SKU, SKU= jenis barang + merek + model + gender (perempuan/laki) + bahan + warna + ukuran. Kodenya, misalnya D1= sepatu untuk orang dewasa, M1= merek sepatu A, 2= model boot, 2= perempuan, 0= warna hitam, 37= ukuran sepatu. Jika sepatu merek A, model boot, untuk perempuan, warna hitam, bahan kulit, ukuran 37 dibuat SKU-nya, maka hasilnya menjadi D1M122037.

Setelah semua barang dibuat SKU-nya, tahap kegiatan offline berikutnya adalah menyusun product overview (tinjauan produk) untuk semua jenis barang. Ini merupakan bagian penting dalam toko daring, karena output-nya adalah informasi produk (dalam format teks dan gambar) yang akan ditampilkan di katalog toko daring.

Ada beberapa sub-kegiatan offline dalam tahap ini. Penyusunan deskripsi produk dan spesifikasinya, pembuatan foto produk, serta disain kreatif untuk promosi produk di toko daring maupun media lain. Jika produk yang dijual adalah pakaian, maka perlu dibuat rumusan konsep “gaya” untuk setiap produk yang akan dipasarkan.

Setiap sub-kegiatan dalam tahap product overview dilakukan secara terpisah, tetapi saling terkait. Kita ambil contoh toko daring pakaian. Seorang stylist di sebuah toko daring pakaian bekerja mengkreasi gaya untuk produk pakaian yang akan dipasarkan. Kreasi itu diterjemahkan oleh copywriter menjadi deskripsi produk dengan bahasa promosi. Stylist juga bekerjasama dengan fotografer untuk menghasilkan gambar produk sesuai dengan konsep gaya yang sudah dibuat. Langkah selanjutnya, stylist, copywriter, fotografer dan creative designer harus bekerjasama untuk menghasilkan banner promosi produk yang akan ditampilkan di toko daring (sebagai teaser) dan media promosi lainnya, serta newsletter.

Setelah tahap product review dilalui, barulah produk-produk yang akan dijual diunggah ke dalam katalog toko daring. Beriringan dengan itu, promosi dilakukan. Antara lain melalui blog yang menjadi bagian dari toko daring itu sendiri, media sosial, newsletter, adwords, optimisasi mesin pencari dan lain-lain. Selain melalui kanal online, bisa juga dilengkapi dengan promosi di kanal offline melalui penyelenggaraan event, atau beriklan di media cetak dan media-media promosi offline lainnya.

Masuknya produk ke dalam toko daring adalah penanda tahap kegiatan online di toko daring dimulai. Tetapi, tentu saja bukan hanya itu. Ada bebeberapa kegiatan online yang harus dijalani seorang operator dan customer service toko daring. Diantaranya adalah pengelolaan order barang, invoice, newsletter, berkoordinasi dengan pihak gudang untuk pengiriman barang, pemeriksaan status pengiriman, verifikasi pembayaran, pengelolaan konten website, serta menjawab pertanyaan pelanggan melalui email, live chat dan telepon.

Bila terjadi pembelian melalui shopping cart, seorang operator toko daring harus memastikan bahwa barang yang dipesan sudah dibayar. Untuk itu dia harus memeriksa konfirmasi pembayaran dari pembeli, dan melakukan verifikasi pembayaran ke bank. Setelah diverifikasi, dia harus mengirimkan hasil verifikasinya ke bagian gudang, agar pihak gudang bisa mengeluarkan barang untuk dikirim. Jika pengiriman sudah dilakukan, operator toko daring harus melakukan perubahan status pemesanan dari “pending” menjadi “process”. Dengan begitu, pembeli bisa mengetahui status barang pesanannya melalui akun pelanggan yang tersedia di toko daring. Dan bila barang sudah sampai di tangan pembeli, operator toko daring harus melakukan perubahan status pemesanan barang dari “process” menjadi “complete”.

Proses tersebut adalah kegiatan yang normal dilakukan seorang operator toko daring. Dalam praktiknya, proses itu tidak selalu demikian. Sangat mungkin orang yang melakukan pemesanan tidak melakukan pembayaran sampai batas waktu yang ditentukan. Tugas operatorlah untuk selalu memeriksa setiap pesanan yang harus ditindaklanjuti dan yang dibatalkan. Dia harus tahu persis status setiap pesanan barang yang masuk ke database toko daring dan jatuh tempo pembayarannya.

Tidak Mudah bukan Berarti Sulit

Kembali ke pembicaraan saya dengan Shanty. Gambaran sederhana proses bisnis toko daring di atas sama sekali tidak terbayangkan olehnya ketika memutuskan akan membangun toko daring. Dia bahkan baru benar-benar menyadari bahwa keinginannya mengembakan bisnis online secara lebih serius membawa konsekuensi yang serius pula. Dalam arti, tidak bisa dijalani secara sambil lalu seperti yang selama ini dilakukannya melalui blog dan facebook.

Apa yang saya sampaikan bukan untuk membuat langkahnya mundur. Saya hanya ingin memberikan rambu-rambu penting yang selayaknya diperhatikan oleh mereka yang benar-benar berniat serius menjalani bisnis melalui toko daring secara berkelanjutan. Itu penting, karena menjalani proses bisnis toko daring jauh lebih sulit dibanding membangun toko daringnya itu sendiri. Dan sekali lagi saya ingatkan, bahwa operasionalisasi toko daring bergantung pada serangkaian kegiatan offline. Offline dan online dalam proses bisnis toko daring ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

***

Anda punya pertanyaan atau tanggapan atas artikel di atas, sampaikan pada kami!

Fields marked with a * are required

Topik Terkait

 

× WhatsApp