Say Hi to Fashion Ecommerce

Ecommerce sudah menjadi kebutuhan di semua sektor bisnis. Fashion adalah salah satu sektor yang paling agresif memanfaatkan ecommerce. Dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah dan besarnya transaksi online di sektor ini. Ecommerce sudah menjadi hal yang esensial dalam bisnis fashion. Namun demikian, arti penting ecommerce bagi peningkatan bisnis tidak dengan sendirinya bisa terjadi. Faktor manusia tetap menjadi penentu utama.

Dalam rentang waktu lima tahun ke belakang, saya sering dihubungi orangorang yang ingin membangun online shop (ecommerce). Beberapa di antaranya adalah pebisnis fashion. Ada pemilik brand, juga ritel.

Secara umum mereka tahu bahwa pemasaran melalui internet itu penting. Plus terpengaruh pemberitaan tentang cerita sukses para pelaku bisnis online, hampir semua yang menghubungi saya datang dengan semangat menggebu-gebu. Mereka tak ragu mengeluarkan biaya yang cukup besar demi meraih cerita sukses seperti yang banyak didengungkan media. Sangat sedikit yang berusaha memikirkan apa dan bagaimana sebenarnya menjalani bisnis online melalui ecommerce.

Secara umum mereka menganggap bisnis online berbeda dengan offline. Lebih efisien, tidak terbatas ruang dan waktu. Beroperasi 24/7, dapat diakses dari seluruh penjuru dunia, tidak perlu pelayan toko, tidak perlu rak barang dan berbagai kebutuhan seperti untuk pengelolaan bisnis offline. Praktis, sederhana, dan mudah, itu yang ada di pikiran sebagian besar orang yang pernah datang pada saya.

Sebagai pengembang ecommerce, mendapatkan banyak klien tentu menyenangkan. Namun rasa senang itu berubah kecewa saat menyadari sebagian besar dari mereka hanya memikirkan cerita sukses orang tanpa tahu tantangan kerja keras dan biaya untuk meraihnya. Itu sama dengan menyimpan bom waktu kekecewaan di kemudian hari.

Ecommerce Bukan Lawan Bisnis Offline

Dewasa ini ecommerce (proses jual beli barang dan jasa secara elektronik melalui internet) sudah menjadi kebutuhan di semua sektor bisnis. Dalam bisnis fashionecommerce sudah menjadi hal yang esensial. British Fashion Council (BFC) misalnya, secara terencana memberikan dukungan kepada para desainer dan brand-brand Inggris untuk meluaskan pemasaran global melalui kanal online. Mereka menargetkan 100% desainer dan brand Inggris memiliki ecommerce.

Terkait dengan itu, Ari Bloom memberi catatan, meskipun brand-brand fashion akan selalu membutuhkan pengelolaan offline—sehingga pelanggan dapat menyentuh, merasakan, dan mencoba setiap produk yang dibuat—juga pengelolaan online (The Basic, Part 9 – Ecommerce, Business of Fashion). Menurutnya, untuk meraih keberhasilan bisnis jangka panjang, merebut peluang e-commerce sama pentingnya dengan menjalankan pemasaran secara offline.

Saya setuju dengan itu. Sebagai alat pemasaran, ecommerce memiliki kelebihan juga kekurangan dibanding cara pemasaran offline. Karena itu, keduanya saling melengkapi. Dalam bisnis fashion terutama,ecommerce bukanlah lawan dari cara pemasaran offline. Justru menjadi penguat bisnis offline.

Fashion Ecommerce

Fashion adalah salah satu sektor bisnis paling agresif memanfaatkan ecommerce. Dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah dan besarnya transaksi online di sektor ini. Emarketer (perusahaan penelitian pasar independen berbasis di New York, Amerika Serikat) melaporkan, penjualan online pakaian dan aksesori mengalami pertumbuhan lebih cepat (20% per tahun) dibanding produk non-fashion (Bloom, ibid). Itu bisa terjadi, karena gencarnya brand dan ritel fashion memanfaatkan internet sebagai media pemasaran. Indikator lainnya adalah munculnya berbagai varian situs social commerce bagi pecinta fashion, seperti Polyvore, Lyst, dan Shopcade.

Itu belum termasuk situs komunitas seperti Thread dan Looklab yang berperan menjembatani pelanggan dan brand fashion dengan melibatkan stylists. Di Looklab misalnya, setiap pengguna dapat berkomunikasione-on-one dengan stylists tentang personal style (Sadikin Gani, Belanja Busana atas Saran Pengarah Gaya, The Actual Style). Terobosan Looklab dinilai sebagai jawaban atas kekurangan algoritma dan mesin pencari yang tidak memiliki pertimbangan selera dan rasa dalam soal gaya berbusana. Model ini diperkirakan akan memperbesar dampak pemasaran fashion di kanal online. Sifatnya yang personal menjadi kelebihannya.

Perlu Perubahan Cara Pikir

Ecommerce penting dalam bisnis fashion, saya setuju. Karena itu, saya kerap mengemukakannya melalui tulisan-tulisan saya di majalah bisnis. Namun, saya juga selalu memberi catatan bahwa arti penting ecommerce bagi peningkatan bisnis tidak dengan sendirinya bisa terjadi. Faktor manusia tetap menjadi penentu utama.

Hal itu nampaknya belum banyak disadari orang. Seperti mereka yang pernah mendatangi saya, banyak orang di luar sana yang mungkin masih beranggapan bahwa menjalankan bisnis online itu lebih mudah dan murah dibanding bisnis offline. Dalam konteks tertentu mungkin tepat, tapi dalam banyak konteks tidak tepat.

Mengelola toko online misalnya, sama saja dengan mengelola toko offline. Sebuah toko onlinemembutuhkan pelayan untuk menjawab pertanyaan pelanggan, menanggapi keluhan, dan menyelesaikannya. Toko online pun memerlukan tenaga kerja yang mengelola pemesanan, pengiriman hingga penggantian barang yang rusak.

Itu baru sebagian kecil. Belum mencakup seluruh tahapan proses bisnisnya. Mulai dari memproduksi barang, promosi, penjualan hingga barang-barang itu sampai ke tangan pembeli. Dalam setiap tahapan dibutuhkan sekian orang tenaga kerja yang harus mengoperasikannya.

“Ah, ternyata ribet, ya?!” Demikian komentar salah seorang klien saya beberapa waktu lalu.

Pengelolaan ecommerce terkesan ribet, karena cara pikir kita yang masih menganggap bisnis online sebagai jalan pintas untuk mempermudah berbagai kerumitan dalam bisnis offline. Padahal, online dan offline sama saja. Masing-masing memiliki tahapan proses bisnis yang harus dipatuhi. Hanya media perantaranya yang membedakan keduanya.

***

Anda punya pertanyaan atau tanggapan atas artikel di atas, sampaikan pada kami!

Fields marked with a * are required

Topik Terkait