Kain Tradisional Indonesia dan Tantangan Industri Fashion

2015—2016 adalah tahun-tahun Penta mendapatkan banyak gambar orang-orang mengenakan pakaian berbahan kain tradisional Indonesia—batik dan tenun dari berbagai daerah di Indonesia—di setiap acara pagelaran busana di Jakarta. Dia berniat mendokumentasikan dan membuat buku dengan tema busana bernuansa etnik.

Dua tahun pertama (2015-2016) Penta cukup bahagia, karena tak sulit untuk menemukan orang mengenakan pakaian berbahan tenun dan batik. Namun, memasuki 2017-2018 kamera Penta lebih banyak tergantung di pundaknya. Dia semakin kesulitan menemukan orang-orang yang mengenakan pakaian berbahan tenun dan batik di acara-acara seperti Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week.

Lama saya tak bertemu dengannya. Tak ada kabar juga bagaimana nasib buku yang hendak ditulisnya.

Berangkat dari pengalaman Penta, bisa saja kita berasumsi bahwa orang mulai bosan mengenakan pakaian berbahan kain tradisional yang tampaknya tidak banyak mengalami perubahan dari sisi estetika. Atau mungkin kurang nyaman karena bahannya cenderung tebal dan panas seperti pengakuan beberapa orang yang saya temui. Atau mungkin kalian yang tengah membaca tulisan ini memiliki pengalaman dan alasan lain untuk melengkapinya.

Terkait dengan itu, hal yang juga menarik dan kerap orang katakan, sangat sedikit kaum muda yang mau mengenakan pakaian berbahan kain tradisional, kecuali untuk acara-acara khusus, entah itu acara adat atau acara formal yang mewajibkan mengenakan pakaian berbahan kain tradisional.

Ini adalah tantangan yang kita hadapi. Kenyataan yang ada di depan mata, bahwa kain tradisional—terlepas dari bangga dan tidak bangga dengan itu—dituntut untuk beradaptasi dengan tantangan industri fashion yang terus berubah. Mau tidak mau, suka tidak suka.

Bagaimana jalan keluarnya?

Pertama, secara historis kain tradisional Indonesia lekat dengan adat budaya masyarakat, dan digunakan secara subsisten—untuk dipakain sendiri—bukan komoditas perdagangan layaknya kain tenun yang diproduksi sejak era revolusi Industri di Inggris.

Karena itu, kedua, bila berharap kain tradisional bisa mengambil peran dalam industri fashion dan diterima banyak orang, maka kita harus memisahkan antara motif-motif kain tradisional yang menjadi bagian dari budaya masyarakat—yang tidak bisa diubah dan diperlakukan sembarangan—dan motif-motif baru, yang secara khusus dibuat untuk tujuan komersial.

Itu artinya, ketiga, agar selaras dengan tantangan industri fashion, maka yang fundamental untuk dipertahankan dan terus dijaga bukan kain tradisionalnya an sich, melainkan KETERAMPILAN yang mendasarinya. Dengan begitu, kita akan lebih bisa beradaptasi dengan tantangan industri fashion yang terus berubah sejalan dengan perubahan selera dan preferensi orang berpakaian.

Mudah-mudahan catatan pendek ini bermanfaat dan bisa menjadi pemantik ke arah diskusi lebih dalam dan luas lagi. Terima kasih.

 

×

Hai...

Ingin tahu seputar layanan dan produk kami? Klik icon logo di bawah!

×