Peta-Kompas Memasuki Dunia Fashion

Ada banyak orang yang tertarik pada fashion. Apa itu fashion, ada banyak pengertian—sebanyak peminatnya—yang secara akademis masih terus diperdebatkan. Namun, untuk kepentingan tulisan ini saya hanya akan merujuk pada batasan yang dikemukakan Corner. Menurutnya, “fashion pada intinya adalah tentang perhiasan diri dan presentasi visual diri kita ke dunia luar, mencerminkan bagaimana kita ingin dipandang dunia, dan bagaimana kita memandang dunia itu sendiri” (Fances Corner, 2017. Why Fashion Matters. London: Thames & Hudson). Abstrak, ya?! Jadi mari kita sederhanakan dan konkretkan. Dalam bentuknya yang konkret fashion antara lain mewujud dalam bentuk pakaian—baju, sepatu, tas, perhiasan, dll. Bahasan tentang fashion sebagai sebuah konsep (abstrak) dan fenomena (konkret), silakan baca Yuniya Kawamura, 2005. Fashionology, Berg Publisher.

Kembali pada kalimat pembuka saya, bahwa di lingkungan sekitar kita ada banyak orang yang tertarik pada fashion. Nadin (bukan nama sebenarnya) misalnya, salah seorang mahasiswa saya di Esmod Jakarta beberapa tahun lalu, tertarik pada fashion karena kegemarannya mengotak-atik kain dan memadupadankan pakaian. Mimpinya, menjadi seorang fashion designer sekaligus stylist. Iris van Herpen (fashion designer), dan Lucinda Chambers (fashion stylist) adalah favoritnya.

Lala, adik kelas Nadin punya alasan lain. Dia lebih tertarik pada kreasi kostum film. Mimpinya, selain ingin menjadi desainer kostum untuk film-film dengan setting masa lalu, juga masa depan. “Kita ditantang untuk mengeksplorasi sejarah kehidupan manusia sebelum kita, juga ditantang untuk memprediksi kecenderungan kehidupan kita di  masa yang akan datang,” ungkapnya penuh semangat.

Lain Nadin, lain Lala, Agnes tertarik pada fashion karena alasan peluang bisnis, meski dia sadar betul tantangannya sangat besar, karena fashion adalah industri hyper-competitive. “I love business, Sir. Menantang!” katanya dengan mata berbinar-binar. Tak heran bila keputusan Agnes memasuki sekolah fashion karena terinspirasi Amancio Ortega, pendiri Zara.

Kalian yang sedang membaca tulisan ini, dan memiliki ketertarikan pada fashion bisa memiliki alasan sama maupun berbeda dengan Nadin, Lala, dan Agnes. Tak jadi soal, karena pertanyaan pentingnya: bila tertarik pada fashion dan ingin berkarir di sana, pilihan karir apa saja yang bisa diambil, seluas apa itu; dan dari mana memulainya?

Mari kita mulai saja perjalanan kita!

Pertama, fashion adalah industri global. Nilainya mencapai sekitar US $ 2,4 triliun hingga US $ 3 triliun per tahun—silakan konversi sendiri ke mata uang rupiah—dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi sekitar 75 juta orang di seluruh dunia (Fashion United).

Sebagai sebuah industri, fashion sangat kompleks (rumpil). Rantai pasokannya (supply chain) panjang, luas, dan saling silang, membentuk jaringan kompleks yang saling bergantung. Coba cek baju kategori high-street—Zara, Uniqlo, H&M, Pull and Bear,  Cotton on, dsb—yang ada di lemari pakaian kalian. Bahan baku kapasnya bisa berasal dari salah satu atau beberapa negara pengekspor kapas terbesar di dunia (India, Amerika Serikat, China, Brazil, dan Pakistan). Pengolahannya hingga menjadi benang, dan diproduksi menjadi baju yang siap didistribusikan ke ritel-ritel fashion di seluruh dunia bisa dikerjakan di beberapa negara berbeda.

Merujuk pada catatan WITS (World Integrated Trade Solution), saat ini, lebih dari 200 negara dan wilayah terlibat dalam impor dan ekspor tekstil dan pakaian jadi (Leslie Davis Burns and Kathy K. Mullet, 2020. The Business of Fashion: Designing, Manufacturing, and Marketing, Six Edition, Bloomsbury Publisher). H&M misalnya, meskipun jenama asal Swedia ini tidak memiliki pabrik, tetapi menggunakan sekitar 850 pemasok independen, terutama di Asia dan Eropa.

Contoh lain, Nike. Jenama sepatu kelahiran Oregon, Amerika Serikat ini mengambil bahan dari 77 fasilitas di 11 negara, termasuk Taiwan, Korea Selatan, Indonesia, Cina, Turki, dan Brasil. Komponen untuk produk jadinya bersumber dari 47 pabrik di sebelas negara, termasuk Amerika Serikat, Vietnam, Italia, Korea Selatan, dan Brasil. Sementara produk jadinya bersumber dari 480 pabrik di 41 negara termasuk Amerika Serikat, Cina, Vietnam, Thailand, Brasil, dan Meksiko (Burns and Mullet, Ibid).

Tak hanya jenama-jenama global yang ada di dalam kompleksitas rantai pasokan fashion. Begitu pun dengan baju kalian yang dibeli di Brightspot dan toko pop-up di mall, atau baju berbahan batik tulis yang dibeli dari pengrajin di Solo. Jenamanya lokal, pembuatannya lokal, kapasnya mungkin dipintal di Brasil, ditenun di Indonesia, atau di Cina. Benangnya kemungkinan besar impor. Kalaupun tidak, kapasnya bisa dipastikan impor—Indonesia adalah importir kapas ke-4 terbesar di dunia (International Trade Center). Itu baru kain, belum termasuk pewarna, kancing, ritsleting, dan semua unsur yang melekat pada sepotong pakaian.

Kedua, dengan melihat kompleksitas rantai pasokan fashion, maka ada begitu banyak bidang pekerjaan yang dapat dimasuki oleh kalian yang tertarik pada fashion. Walaupun masyarakat secara umum (awam) cenderung melihat karir di bidang fashion tertuju pada desainer dan stylist, dalam kenyataannya tidak sesederhana itu. Industri fashion bisa menyerap tenaga kerja dari berbagai bidang, bukan cuma fashion designer.

Sebuah jenama fashion contohnya, bukan hanya butuh seorang desainer. Dia pun butuh antara lain fashion merchandiser, fashion management specialist, trend forcaster, fashion editor, fashion marketer, showroom representative, fashion retailer, dan lain-lain. Di era serba digital seperti sekarang seorang data analyst memiliki peran penting dalam industri fashion. Singkat kata, industri fashion bisa menyerap tenaga kerja dari berbagai bidang pendidikan, mulai dari desain fashion hingga anthropologist dan data scientist.

Nah, jika kalian benar-benar tertarik untuk memasuki dunia fashion, entah itu di bagian hulu, tengah, maupun hilir rantai pasokannya; baik kalian yang berlatar pendidikan fashion maupun bukan, maka perjalanan awal yang harus kalian lakukan adalah mengenali dan menelusuri secara cermat sosok industri fashion dewasa ini. Saya menyarankan kalian memulainya dengan membaca dua buah buku: (1) Leslie Davis Burns and Kathy K. Mullet, 2020. The Business of Fashion: Designing, Manufacturing, and Marketing, Six Edition, Bloomsbury Publisher; dan (2) Andrew Reilly, 2014. Key Concepts for the Fashion Industry, Bloomsbury Publisher.

Dengan membaca kedua buku itu di awal, mudah-mudahan kita bisa menghindari ketersesatan, dan tahu pasti apa yang harus kalian siapkan ketika keputusan untuk berkarir di dunia fashion sudah benar-benar bulat adanya.

Selamat berpetualang!

Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih.

Catatan: Kedua buku tersebut, ke depan bisa diakses antara lain di perpustakaan fashion Satusatu Fashion Hub (Bandung), dan Studio Fashion, Smesco Indonesia (Jakarta). Keduanya tengah dalam pengembangan.

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×