Pandemi COVID-19 telah mengguncang hampir setiap sektor ekonomi, khususnya para pelaku UMKM di sektor fashion yang memiliki sumber daya dan keuangan terbatas. Guna menjaga agar bisnis bisa bertahan dalam situasi yang tidak menentu seperti sekarang, penting bagi para pelaku UMKM melakukan penilaian dampak Covid-19 terhadap bisnis. Sejalan dengan itu, buat juga rencana tindakan (action plan) untuk melindungi kesejahteraan para pekerja, menilai dampak keuangan terhadap bisnis, dan memastikan dukungan dan solusi apa saja yang tersedia—baik yang ditawarkan oleh penyelenggara negara, swasta, maupun organisasi dan komunitas sosial yang ada—untuk membantu mempertahankan kelangsungan bisnis Anda.

Di bawah ini ada 5 aspek penting sebagai bahan pertimbangan bagi para pelaku UKM di sektor fashion dalam membuat keputusan bisnis selama menghadapi pandemi Covid-19.

Hal-hal apa saja yang harus dipertimbangkan oleh para pelaku bisnis, khususnya UMKM di sektor fashion dalam menghadapi tekanan pandemik Covid-19? Tindakan praktis apa saja yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga kelangsungan bisnis?

Secara umum, hal prioritas yang sebaiknya ditempuh adalah mengambil tindakan praktis dalam tiga aspek berikut ini:

Pertama, komunikasi internal dengan seluruh pekerja, dan komunikasi eksternal dengan pelanggan, pemasok bahan, dan para pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya yang ada dalam rantai pasokan bisnis.

Kedua, dampak penerapan kebijakan status darurat kesehatan dan pembatasan sosial berskala besar[1] terhadap pengaturan cara kerja, dan ketersediaan tenaga kerja.

Ketiga, perencanaan untuk mengurangi hambatan/gangguan dalam rantai pasokan dan/atau arus kas.

Catatan

[1] Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Didease 2019 (COVID- 19); Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Pemilik usaha bertanggung jawab untuk mempertahankan kelangsungan bisnis di bawah tekanan pandemi Covid-19. Apa yang harus dilakukan untuk itu?

Harus selalu disadari bahwa tenaga kerja merupakan penggerak inti bisnis, dan tulang punggung perusahaan Anda. Tanpa mereka, bisnis tidak akan berjalan seberapa baik pun rencana bisnis dibuat, dan sebesar apapun modal yang Anda miliki.

Menyangkut ketenagakerjaan, ada enam hal yang harus mendapatkan pertian utama pemilik usaha.

Pertama, pastikan semua pekerja dalam keadaan sehat, dan selalu memantau kondisi kesehatan mereka. Sediakan fasilitas kesehatan di tempat kerja yang dapat meminimalisir kemungkinan pekerja terjangkit Covid-19. Beri penjelasan yang memadai tentang wabah Covid-19 dan cara menghindarinya. Dan bila ada pekerja yang terjangkit—meskipun hal ini tidak diharapkan—beri dukungan untuk kepulihannya, baik materi maupun non-materi.

Kedua, buat pengaturan cara kerja yang bisa dilakukan secara jarak jauh dan tidak, serta pembagian tenaga kerja secara tepat agar perusahaan tetap bisa berjalan walaupun dalam situasi yang penuh pembatasan. Termasuk membuat mekanisme dan SOP (standard operating procedure) yang jelas dan mudah dimengerti untuk mengontrol pekerjaan dan proses supervisi dalam cara kerja jarak jauh.

Ketiga, pastikan tersedia sarana dan prasarana—peralatatan dan akses internet—untuk menopang terselenggaranya cara kerja jarak jauh yang tidak membebani pekerja.

Keempat, bagi pekerja dengan jenis pekerjaan yang tidak bisa dilakukan di rumah, pastikan ada sarana angkutan antar-jemput para pekerja, sehingga mereka terhindar dari kontak dengan banyak orang.

Kelima, pertimbangkan untuk menunjuk salah seorang pekerja yang bertanggungjawab atas terlaksananya pekerjaan dengan cara kerja jarak jauh. Terutama dalam mengatur dan mengelola hilir-mudiknya informasi selama melakukan kerja jarak jauh.

Keenam, pastikan tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja. Untuk itu, pemilik usaha harus membuat perhitungan skenario terbaik dan terburuk menghadapi pandemi Covid-19. Bila sumber daya keuangan terbatas, lakukan efisiensi secara ketat di luar pilihan PHK. Jika memiliki utang ke bank, segera tindaklanjuti kebijakan relaksasi sebagaimana yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan. Klik di sini untuk informasi lengkap.

Menyangkut rantai pasokan, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah mencari tahu dan memastikan apakah bagian dari rantai pasokan bisnis Anda ada yang terletak di wilayah zona merah Covid-19 atau sebaliknya. 

Pertama, lakukan peninjauan/penilaian terhadap rantai pasokan bisnis dari hulu hingga hilir, sehingga Anda memahami betul situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini.

Kedua, lakukan pemilahan bagian rantai pasokan yang paling rentan, dan yang lebih bisa bertahan menghadapi Covid-19. 

Ketiga, lakukan komunikasi dengan mitra bisnis untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan menghambat/mengganggu kelancaran rantai pasokan dari hulu hingga hilir.

Keempat, tinjau kembali berbagai kontrak bisnis untuk memastikan apakah dalam situasi dan kondisi saat ini perlu melakukan revisi dan perjanjian ulang atau tidak.

Cara Praktis Menilai Dampak terhadap Rantai Pasokan

  • Identifikasi pemasok utama dan pelanggan.
  • Identifikasi pemasok dan pelanggan yang terpengaruh dan berpotensi terkena dampak.
  • Identifikasi kontrak kerja, perjanjian/kesepakatan dengan stakeholder (bank, pemasok, dll) yang mungkin batal dilaksanakan, atau perlu direvisi dan dinegosiasikan ulang untuk kontrak/perjanjian yang sudah disepakati.
  • Tunjuk dan pastikan ada staf internal yang bertugas memantau terus setiap perkembangan yang terjadi terkait dampak pandemi Covid-19. Termasuk berbagai kebijakan bantuan yang ditawarkan penyelenggara negara dan swasta.
  • Dokumentasikan berbagai langkah dan upaya yang Anda tempuh, baik yang berhasil maupun gagal.

Pertama, bila kanal pemasaran Anda berbasis offline dan tidak bisa beroperasi secara normal, beri penjelasan pada staf toko tentang situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini. 

Kedua, buatlah mekanisme kerja dan SOP pengoperasian toko yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini. Anda harus memprioritaskan pada dua hal: (1) perlindungan terhadap staf yang bekerja di toko; (2) pelanggan yang datang; dan (3) kelangsungan usaha.

Ketiga, sediakan berbagai fasilitas perlindungan kesehatan bagi staf toko dan pelanggan: masker untuk pekerja, serta sanitizer untuk pekerja dan pelanggan.

Keempat, untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, ambil langkah untuk memperluas saluran pemasaran ke kanal online (ecommerce). Pilih marketplace yang relevan dengan produk yang Anda jual.

Bila saluran pemasaran Anda online, optimalkan pengelolaannya, dan terus melakukan komunikasi aktif dengan pelanggan. Memberikan penawaran dengan insentif tertentu bisa membantu menarik minat pelanggan yang saat ini lebih fokus pada belanja untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kelima, amati juga perilaku konsumen saat ini. Agar komunikasi yang dibangun sesuai dengan kecenderungan yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Dalam keadaan darurat seperti sekarang kemungkinan besar arus uang tunai yang masuk kas akan melambat, bahkan mungkin terhenti. Untuk itu, tinjau kembali model arus kas Anda, dan hitung kembali berapa banyak peluang untuk melakukan manuver dalam bisnis. Misalnya menentukan pemasok mana yang harus diprioritaskan dibayar, dan mana yang bisa ditangguhkan.

Buat urutan item-item yang harus dibayar selama kurun waktu 3-6 bulan ke depan, sehingga Anda tahu berapa beban keuangan yang harus ditanggulangi setidaknya dalam periode tersebut.

Jika ada utang ke bank, segera ajukan permohonan untuk mendapatkan relaksasi kredit. Sampaikan kondisi keuangan perusahaan secara akurat. Pelajari dengan seksama setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh bank, OJK, dan perpajakan (Kemenkeu). Klik di sini untuk informasi lengkap.

Jika Anda menyewa toko, berkomunikasilah dengan pemilik bangunan atau pengelola ruko, mal untuk melakukan renegosiasi pembayaran sewa. Misalnya saja penangguhan biaya sewa atau service charge bila toko Anda ada di dalam mal dan ruko.