Wawasan Dasar Membangun Jenama Fashion Berkelanjutan

Beberapa waktu lalu saya menerima sebuah pesan langsung lewat Instagram. Isi pesannya seperti saya kutip di bawah ini:

“Halo, kak. Selamat siang. Perkenalkan, saya Sheila dari Jakarta. Saya tertarik mendalami dan (mudah-mudahan) dapat mempraktikkan ide sustainability dalam bisnis fashion yang sedang saya rintisLatar belakangpendidikansaya fashion design. Pertanyaan saya, dari mana saya harus memulai belajar secara mandiri? Saya meilihat ada begitu banyak buku yang membahas sustainable fashion, dan berbagai artikel yang mengulas itu. Tapi, dengan begitu banyaknya informasi yang sangat beragam tidak jadi memudahkan saya untuk belajar. Malah sebaliknya. Saya mengalami apa yang oleh para penulis buku marketing dan branding disebut sebagai “the paradox of choice”. Tentu saja bisa mengeksplorasi dan memilah-milah secara mandiri. Tapi saat ini saya gak cukup sabar untuk mengerjakannya. Saya pikir, saya harus ambil shortcut. Mungkin kakak bisa membantu memberikan arahan: buku apa yang menurut kakak esensial untuk saya baca di tahap awal belajar.

Maaf, ya kak, pesannya agak panjang. Mudah-mudahan permintaan saya ini bisa dimaklumi, dan kakak dapat memberi tanggapan. Terima kasih.

Pengalaman Sheila kemungkinan besar menjadi pengalaman banyak orang. Internet telah membuka kesempatan juga kemudahan bagi yang mau belajar secara mandiri. Tetapi, kemudahan itu bersisian dengan tantangannya. Selain  kita harus dapat memilih dan memilah informasi yang tepat dan akurat, juga menghindari informasi yang menyesatkan. Dan itu tidak mudah!

Butuh waktu dan kesabaran untuk memilih dan memilah informasi yang tersebar di internet sesuai kebutuhan kita dan layak dijadikan referensi. Mesin pencarian memang dapat membantu, tetapi sebatas mengurutkan daftar konten yang dianggap relevan dengan kata kunci yang kita masukkan. Sebagai contoh, ketika saya memasukkan kata kunci sustainable fashion melalui Google, ada 558 juta konten di internet yang memuat istilah itu, termasuk konten iklan, berita, artikel jurnal, buku, gambar dan lain-lain. Bisa dibayangkan tantangan untuk memilih dan memilahnya. Karena itu, kembali ke buku sebagai langkah awal menemukan sumber pengetahuan adalah pilihan paling logis. Buku bukan hanya memuat informasi pengetahuan yang kita butuhkan secara lebih komprehensif, juga menyimpan informasi yang akan mengarahkan kita pada sumber bacaan lain yang relevan, baik itu melalui catatan kaki/akhir maupun bibliografi sebuah buku. 

Kembali ke pertanyaan Sheila di atas, ada beberapa buku dengan subjek sustainable fashion yang saya kategorikan sebagai bacaan esensial bagi kalian yang tertarik memahami dan menerapkan praktik sustainable fashion.

Pertama adalah buku yang ditulis Kate Fletcher dan Lynda Grose, Fashion and Sustainability: Design for Change (Laurence King,2012). Buku ini saya nilai penting, karena memberikan uraian komprehensif atas tiga domain utama dalam sistem industri fashion yang perlu dibenahi: transformasi dalam aspek produk fashion, sistem fashion dan praktik desain. Di sini kita akan memperoleh wawasan tentang kompleksitas hubungan antara fashion dan sistem yang lebih besar: ekonomi, ekologi dan masyarakat. Dalam konteks hubungan itulah Fletcher dan Grose, selain mengeksplorasi berbagai persoalan dalam rantai pasokan industri fashion sambil menandai potensi-pontensi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan keberlanjutan yang sifatnya praktis. 

Dalam konteks Indonesia terutama, di mana masih banyak orang yang memahami sustainable fashion sebatas penggunaan bahan organik dan pewarna alam, buku ini dapat meluruskan pandangan yang mereduksi fashion berkelanjutan sebatas mengubah material yang digunakan untuk produk fashion.

Fletcher dan Grose mengatakan, ada kecenderungan bahwa jika kita sudah mengganti bahan, kita sudah mengurangi dampak, dan pekerjaan dianggap selesai. “Namun, pada kenyataannya, masalahnya jauh lebih kompleks dari itu,” kata mereka. Mengganti bahan memang memberi manfaat yang cukup cepat, namun inovasi keberlanjutan yang berbasis material tidak akan membuat perubahan signifikan bagi terwujudnya industri fashion berkelanjutan. Pada titik inilah mereka menguraikan aspek material produk fashion mulai dari produksi, distribusi, perawatan selama pemakaian, hingga pasca pemakaian sambil mengeksplorasi peluang-peluang yang dapat dilakukan untuk memperbaiki industri fashion dalam aspek material.

Inovasi dan transformasi material tidaklah mencukupi untuk mengubah industri fashion menjadi berkelanjutan. Menurut Fletcher dan Grose, sebanyak apapun kita berinovasi dan bertindak untuk meningkatkan kemampuan mewujudkan keberlanjutan dari sepotong pakaian, manfaat yang dibawa oleh perubahannya selalu dibatasi oleh sistem produksi dan model bisnis. Untuk itu, Fletcher dan Grose mengeksplorasi berbagai persoalan dalam sistem fashion dan berbagai peluang untuk perubahannya.

Terakhir, aspek yang tidak kalah pentingnya yang disorot Fletcher dan Grose adalah perubahan dalam praktik desain, di mana seorang desainer fashion bukan hanya ditantang untuk selalu inovatif, juga berperan sebagai komunikator dan pendidik, fasilitator, aktivis, dan wirausahawan. Mengutip Ann Thorpe, penulis buku The Designer’s Atlas of Sustainability (2007), “para desainer saja tidak dapat menghasilkan ekonomi yang stabil, tetapi kita dapat mulai menggunakan ekonomi untuk tujuan yang berkelanjutan, daripada membiarkan ekonomi menggunakan kita untuk pertumbuhan ekonomi.”

Selain Fashion and Sustainability: Design for Change, buku lain yang tidak kalah pentingnya adalah Shaping Sustainable Fashion: Changing the Way We Make and Use Clothes yang dieditori oleh Alison Gwilt dan Timo Rissanen. Diterbitkan oleh Earth Scan pada 2011. Buku ini mengungkap keragaman strategi keberlanjutan yang digunakan untuk mengurangi limbah tekstil dalam proses pembuatan dan penggunaan pakaian, dan berbagai cara inovatif di mana desainer fashion, pembuat dan pengguna mengubah fashion untuk masa depan yang berkelanjutan. Namun, diakui Gwilt dan Rissanen, buku tidak ditujukan untuk memberikan jawaban, melainkan mempertanyakan metode praktik desain saat ini dan menawarkan skenario alternatif bagaimana pakaian (sebaiknya) diproduksi dan digunakan.

Melalui buku ini kita bisa melihat bahwa melalui tindakan merancang dan menggunakan pola konsum si yang bertanggung jawab, limbah tekstil dapat dihindari dan dikurangi. Industri fashion perlu merespon positif pandangan bahwa mengembangkan produk fashion dengan harga terbaik bukanlah satu-satunya cara untuk menjalankan bisnis, terutama ketika minat masyarakat terhadap barang-barang produksi ramah lingkungan dan beretika terus meningkat. Catatan penting dari buku ini, bahwa visi untuk masa depan fashion adalah di mana semua fashion dianggap berkelanjutan, sehingga tidak perlu memberi label “sustainable” hingga mencapai titik di mana masyarakat memandang desain dan produksi fashion sebagai aspek positif yang melekat pada budaya kita.

Buku ketiga yang penting dibaca adalah Sustainable Fashion: New Approaches yang disusun oleh Kirsi Niinimäki. Buku ini memfokuskan bahasannya pada desain berkelanjutan baru dan pemikiran bisnis sambil membuka pandangan tentang desain eksperimental dan pendekatan bisnis hijau melalui kasus kehidupan nyata. 

Selanjutnya adalah buku yang ditulis oleh Alison Gwilt (Bloomsbury, 2020), A Practical Guide to Sustainable Fashion yang memberikan wawasan praktis untuk desainer fashion yang memiliki komitmen terlibat aktif dalam mewujudkan fashion berkelanjutan melalui pendekatan desain dan proses produksi. Menurut Gwilt, tujuan penulisan buku ini adalah sebagai bentuk dukungan kepada desainer fashion dan pengembang produk fashion skala usaha mikro, kecil, dan menengah yang membutuhkan bantuan, pendampingan, dan panduan dalam mengembangkan produk dan layanan fashion yang lebih ramah lingkungan dan berdampak positif pada masyarakat dan budaya. Buku ini memberi pengetahuan dasar bagi perancang busana tentang fase-fase utama dalam siklus hidup pakaian dan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan etika pakaian. 

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah laporan studi Accenture Strategy dan Fashion for Good pada 2019, The Future of Circular Fashion: Assesing The Viability of Circular Business Models. Arti penting laporan ini adalah upayanya dalam mengeksplorasi kelayakan finansial model bisnis sirkular di industri fashion. Walaupun laporan ini tidak bermaksud menjawab seluruh pertanyaan di seputar isu “realistis dan tidak realistis” secara ekonomi untuk mewujudkan industri fashion berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi melingkar, setidaknya ada beberapa alternatif model bisnis yang bisa diterapkan.

Selamat membaca. Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih.

 

×

Hai...

Ingin tahu seputar layanan dan produk kami? Klik icon logo di bawah!

×