Transparansi di Industri Fashion (Bagian 1)

10 Februari 2020 BoF (Business of Fashion) menerbitkan sebuah laporan studi kasus bertajuk Lessons from Fashion’s Journey to Radical Transparency”. Dokumen setebal 18 halaman itu menelisik praktik bisnis merek-merek pakaian yang menerapkan strategi “transpransi”. Ada enam merek yang mereka kaji: Asket, Eileen Fisher, Everlane, Nudie Jeans, Reformation, dan Veja. Laporan ini menarik.

Pertama, memberi gambaran empiris tentang praktik bisnis di luar koridor prinsip ekonomi konvensional (kapitalistik)—berkorban sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya—beserta dinamika dan tantangannya.

Kedua, memberi catatan penting bahwa di era kesadaran konsumen yang semakin kritis, pilihan strategi transparansi adalah komitmen yang harus benar-benar dipraktikkan, bukan pemanis bibir bahasa pemasaran, dan kecenderungan sesaat dengan tujuan menarik minat pembeli.

Ketiga, tantangannya adalah, setiap merek yang memilih strategi transparansi dituntut membuat keputusan-keputusan bisnis selaras visi dan komitmen mereka di tengah kompleksitas rantai pasokan industri fashion yang dominan tidak pro transparansi.

Keempat, meskipun strategi transparansi semakin banyak diadopsi (lihat laporan Fashion Revolution dan Baptist World), tetapi secara umum merek-merek pakaian yang mencoba menerapkannya belum sepenuhnya mampu mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi di sepanjang rantai pasokan industri fashion, termasuk masalah dampak sosial dan lingkungannya.

Gagasan transparansi di industri fashion mengemuka terutama setelah Fashion Revolution secara gencar mengkampanyekan gerakan perubahan di industri fashion terkait isu sosial (kemanusiaan) dan lingkungan. Limbah pakaian, pencemaran lingkungan, sampah pakaian, material beracun, eksploitasi sumber daya alam berlebihan, jejak karbon, masalah kesejahteraan dan keadilan bagi buruh di industri fashion menjadi pendorongnya. Dan tragedi Rana Plaza di Bangladesh (24 April 2013) yang menewaskan 1.133 buruh garmen, dan melukai lebih dari 2.500 orang adalah momentum pemicunya (lihat Jalan Panjang Menuju Fashion Revolution Day). “There is no beauty without truth and there is no truth without transparency,” kata Carry Somers, pendiri dan direktur operasional global Fashion Revolution.

Seperti apa sebenarnya ide transparansi di industri fashion itu? Mengapa penting? Apa kaitannya dengan isu sosial dan lingkungan?

Sisi Gelap Industri Fashion dan Gagasan Transparansi

Industri fashion adalah industri besar dengan rantai pasokan yang panjang, berlapis-lapis, dan rumpil. Sulit bagi kita untuk mendapatkan gambaran yang memadai, misalnya saja tentang perjalanan segenggam kapas hingga menjadi pakaian yang kita kenakan saat ini. Ironisnya, tidak sedikit merek pakaian yang tidak mengetahui dan tidak berusaha mencari tahu dari mana asal usul bahan baku pakaianya, dan tempat di mana pakaian itu dibuat. Fashion Revolution mencatat, hanya 25% merek pakaian yang mengetahui dari mana bahan pakaiannya berasal, dan hanya 9% merek pakaian yang berupaya menelusuri asal muasal bahan pakaiannya.

Di sisi lain, sebagian besar pembeli pun hanya peduli pada harga murah, “oh, t-shirt ini hanya 50 ribu rupiah per potong.” Sangat sedikit dari kita yang berusaha mempertanyakan bagaimana sebuah merek pakaian bisa menjual t-shirt seharga itu? Siapa yang harus menanggung beban biaya produksi, distribusi, dan la-lain, sehingga perusahaan tetap menuai keuntungan dan terus berkembang?

Walaupun persoalan kemanusiaan dan lingkungan di indutri fashion adalah kisah lama, tragedi Rana Plaza-lah yang membuka mata dunia, bahwa harga pakaian murah itu ditopang oleh keringat kaum buruh yang diupah rendah tanpa jaminan sosial dan kesehatan. Bahwa harga pakaian murah itu juga dibebankan pada lingkungan sehingga terus mengalami penurunan kualitas. Limbah beracun pewarna buatan, dan eksploitasi sumber daya alam (air) yang berlebihan adalah di antaranya. Tak hanya itu. Demi efisiensi dan harga murah, tidak sedikit merek pakaian yang menggunakan material beracun yang membahayakan penggunanya.

Apakah desakan transparansi hanya ditujukan bagi merek-merek fashion dalam kategori fast-fashion, tentu tidak. Berlaku juga bagi merek-merek pakaian dengan kategori mewah, yang biasa membandrol produknya jutaan hingga puluhan juta rupiah per potong. Karena fakta menunjukkan, harga pakaian mahal tidak menjamin etis tidaknya pakaian itu diproduksi. Seperti laporan yang dirilis KnowTheChain, sebuah lembaga nirlaba penilan rantai pasokan industri fashion, menunjukkan bahwa merek-merek fashion besar seperti Prada, Salvatore Ferragamo, Fendi, dan Christian Dior tidak lepas dari persoalan eksploitasi tenaga kerja.  

Merek fashion murah maupun mahal memiliki tanggungjawab sama untuk memberikan informasi akurat tentang asal usul bahan pakaiannya, tempat pakaian itu dibuat, besaran upah, jaminan kesehatan buruhnya, dan seterusnya. Sehingga konsumen bisa menilai apakah sepotong pakaian yang diminatinya dibuat secara etis—tidak menyimpan persoalan sosial dan lingkungan yang merugikan—atau sebaliknya.

Praktik Transparansi

Adalah Everlane yang secara gamblang menyatakan diri sebagai merek fashion yang menerapkan strategi “transparansi radikal”. “At Everlane, we want the right choice to be as easy as putting on a great T-shirt. That’s why we partner with the best, ethical factories around the world. Source only the finest materials. And share those stories with you—down to the true cost of every product we make. It’s a new way of doing things. We call it Radical Transparency” (About Us – Everlane.com).

Untuk memenuhi janjinya, mereka melakukan transparansi harga pada setiap item pakaian yang dijualnya. Termasuk memberi informasi yang memadai tentang pabrik tempat di mana pakaian-pakaian itu dibuat, serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksinya.  

Merek lain senada Everlane adalah Asket yang mengusung strategi tranparency and traceability. Melalui slogan “from farm to finish line”, merek fashion asal Swedia ini mengklaim bahwa bahan pakaian yang digunakannya ramah lingkungan, memiliki kejelasan asal-usul dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksinya apoteksv.se. Seperti Everlane, mereka pun menerapkan kebijakan transparansi harga pada setiap item pakaian yang dijualnya dengan cukup rinci.

Sedikit berbeda dengan Everlane dan Asket, sebagai merek pakaian yang mendukung fashion etis, Eileen Fisher menerapkan visinya dalam bentuk pembaruan terhadap pakaian bekas, menerapkan sistem sirkular melalui pemanfaatan baju-baju bekas menjadi produk baru, serta pemberdayaan perempuan di bawah naungan Eileen Fisher Leadership Institute. Sementara komitmennya pada transparansi dipraktikkan dengan cara memberi informasi terbuka tentang pilihan material dan pewarna yang digunakan, rantai pasokan, pabrik tempat memproduksi pakaian, monitoring kondisi dan hak-hak pekerja, termasuk dukungan terhadap komunitas yang terlibat dalam rantai pasokan produksinya.

Nudie Jeans, merek fashion yang memulai debutnya pada 2001 memiliki komitmen serupa. Dengan kata kunci “sustainability”, merek asal Swedia ini menjamin bahwa mulai dari pilihan material, proses produksi, dan produk yang dihasilkannya berada dalam koridor berkelanjutan. Seperti dapat dilihat dalam situs mereka, kita bisa menelusuri informasi yang jelas tentang material, upah buruh, bahan kimia yang dipakai, hingga dokumen sustainability report sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada publik.

Langkah serupa dilakukan oleh merek fashion Reformation yang sejak 2016 konsisten menerbitkan annualy sustainability report sebagai bentuk praktik transparasi. Menariknya, merek fashion yang bermarkas di Los Angeles, Amerika Serikat ini membuat kebijakan menangani langsung proses produksi di tempat mereka sendiri untuk memastikan pekerjanya mendapat perlakuan manusiwi. “There are people behind the clothes we wear, and too often they work under terrible conditions. That’s why we built our own sustainable factory in Los Angeles, where we work with awesome people from all over the world” (About – thereformation.com).

Terakhir, Veja. Merek fashion asal Prancis yang fokus pada sneaker itu secara transparan menginformasikan rantai pasokan yang menopang bisnisnya. Sustainability, fair trade, dan transparansi menjadi komitmen utama mereka. Sebagai bentuk keseriusan mereka atas komitmennya, Veja bahkan mempublikasikan kontrak-kontrak kerjasama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasokan, yang dalam paradigma lama itu masuk ke dalam ranah “rahasia perusahaan”.

Penutup

Seperti diakui oleh August Bard Bringéus, co-founder Asket, transparansi adalah pilihan model bisnis yang mendobrak kelaziman. “Promising radical transparency means breaking the standard business model,” (BoF, 2020: hal.7). Pertanyaannya kemudian adalah: bagaimana merek-merek fashion yang mengambil langkah di luar kelaziman ini bisa bertahan, bahkan terus berkembang? Kondisi apa yang memungkinkannya? Apakah di waktu mendatang strategi transparansi bisa menjadi standar industri fashion? Sejauh apa transparansi yang bisa dilakukan oleh sebuah merek fashion? Lebih jauh lagi, apakah kebangkitan model bisnis transparansi bisa mematahkan tesis yang menyatakan bahwa penguasaan atas alat produksi sebagai satu-satunya jalan kemerdekaan bagi kaum pekerja? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam bagian 2 tulisan mendatang.

Terima kasih. Semoga berguna.

×

Hai...

Ada yang bisa kami bantu? Sampaikan pertanyaan Anda melalui WhatsApp (klik icon di bawah), atau kirim pesan melalui saluran konsultasi dan bantuan kami. Klik di sini!

×