Jalan Panjang Menuju Fashion Revolution

Fashion merupakan industri kreatif penting di dunia. Lebih besar dari industri film, musik dan buku. Namun, keuntungan yang diraup sektor ini tidak serta-merta membawa kesejahteraan bagi para buruh yang menopangnya. Fashion Revolution mengajak kita berbuat nyata untuk mengubah itu. 

Kisah Buram di Balik Panggung Industri Fashion

Setiap kali duduk di pit fotografer pikiran saya hampir selalu tergoda untuk menelisik hal-hal di balik panggung pagelaran fashion. Tentu bukan backstage dalam arti harfiah. Seperti memotret aktivitas para model di balik panggung misalnya. Tetapi, siapa dan berapa banyak orang yang bekerja hingga sebuah pagelaran fashion terselenggara. Lebih jauh lagi, berapa banyak tangan terampil yang menghasilkan sekian banyak pakaian hingga sampai di tubuh para model yang berjalan di runway. Bagaimana kondisi kehidupan mereka, kesejahteraan, keamanan kerja, jaminan kesehatannya, dan seterusnya.

Pikiran saya senantiasa disentil, bahwa seorang desainer dan jenama/brand tertentu tak akan pernah eksis dan meraup banyak keuntungan tanpa ditopang sekian banyak tangan terampil di baliknya. Sayang, masih sedikit dari kita yang tergelitik dan mau melemparkan perhatian ke arah sana walau mungkin hanya sejenak. Bagi pembeli kebanyakan, bicara pakaian adalah bicara kualitas dan harga. Cukup berhenti sampai di situ. Pertanyaan “nakal”, seperti bagaimana sebuah jenama pakaian global merumuskan cara produksi yang mampu menjual produk kelas A dengan harga kelas C nyaris luput dari perhatian.

Sentilan kritik memang ada, tapi orang baru gemar menyoroti keglamoran dunia fashion, desain buruk, kualitas rendah, atau tiru-meniru rancangan. Tak banyak yang berusaha menelusuri perjalanan panjang segenggam kapas yang ditanam petani menjadi benang. Lalu ditenun jadi kain hingga berganti rupa menjadi pakaian siap dikenakan. Tertata rapi di rak-rak toko dan ritel pakaian, lalu menggoda hasrat kita untuk membelinya.

Dari sedikit orang yang tergerak menelusuri sebagian perjalanan itu adalah John Pilger. Melalui film dokumenternya berjudul The New Rulers of the World (2001), kita diajak menyaksikan satu sisi kondisi kehidupan kaum buruh di Jakarta yang mengerjakan produk jenama-jenama global seperti GAP, Nike, Levi’s, Reebok, Adidas, Calvin Klein Jeans dan lain-lain. Mereka diupah murah. Tinggal di pemukiman kumuh dengan sanitasi buruk yang rentan penyakit. Keadaannya tak jauh berbeda dengan tempat tinggal para buruh yang tersebar di negara-negara Asia lainnya, Afrika, dan Amerika Latin, di mana jenama-jenama global diproduksi dengan murah.

Hal seperti itu luput dari perhatian kita sebagai pembeli. Sedikit orang yang tahu bahwa “jenama-jenama global, mulai dari sepatu olah raga hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara miskin dengan upah buruh sangat rendah, nyaris seperti budak,” papar Pilger.

Pilger mengisahkan, dari harga 112 ribu rupiah (sekitar tahun 2000-2001) untuk sepotong celana pendek bermerek GAP yang dibuat di Indonesia, buruh yang mengerjakannya hanya memperoleh 500 rupiah. Sementara dari sepatu lari seharga 1,4 juta rupiah, seorang buruh hanya memperoleh 5 ribu rupiah. Uang sebesar itu bahkan tak cukup untuk sekadar membeli tali sepatunya, kata Pilger.

Apakah perusahaan pemilik jenama menyadari itu? Salah satu jenama global yang menanggapi pertanyaan Pilger mengaku bahwa mereka memiliki program pengawasan pabrik yang komprehensif. Namun ironis, karena mereka pun mengakui tidak dapat (atau tidak mau?) memaksa perusahaan kontraktornya mengikuti ketentuan yang mereka buat.

Paparan Pilger adalah kenyataan pahit di balik panggung fashion, deretan toko dan ritel pakaian yang tersebar di mall-mall kota besar. Namun, kisah itu belum benar-benar mengusik perhatian masyarakat dunia (di luar para buruh dan aktivisnya) terhadap kondisi kehidupan para buruh industri fashion hingga terjadi bencana runtuhnya Rana Plaza di Dhaka, Bangladesh yang menewaskan 1.133 buruh garmen, dan melukai lebih dari 2.500 orang.

Tragedi Rana Plaza, “Enough is Enough”

Bangladesh merupakan eksportir garmen terbesar kedua setelah Cina. Menyerap sekitar 3,6 juta orang buruh dari total populasi lebih dari 150 juta (The Asia Foundation). Sebagian besar adalah perempuan. Pabrik-pabrik tersebut mensuplai produk pakaian untuk sedikitnya 27 jenama global. Empat jenama di antaranya yang cukup populer di Indonesia adalah Zara, Mango, H&M dan GAP.

Dari tiga juta lebih buruh garmen di Bangladesh, Selim Reza adalah salah satunya. Pagi itu, 24 April 2013, seperti hari-hari sebelumnya dia melangkahkan kaki menuju pabrik garmen tempatnya bekerja. Terletak di salah satu lantai Rana Plaza. Setiba di sana, dia dan beberapa kawannya enggan meneruskan langkah. Mereka khawatir dan takut bangunan pabrik tempatnya bekerja akan runtuh setelah melihat ada beberapa bagian gedung yang retak.

“Tapi mereka (manager pabrik-ed) mengancam kami semua. Memukuli beberapa orang dari kami, dan mengatakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak akan terjadi apa-apa. Ini hanya retak ringan,” kenang Selim seperti dikutip Shahnaz Parveen (Rana Plaza Factory Collapse Survivors Struggle One Year on, BBC, 23 April 2014).

Kekhawatiran Selim dan kawan-kawannya terbukti. Tak lama berselang gedung berlantai sembilan yang menjadi kompleks pabrik garmen itu runtuh. Tak mampu menopang beban para pekerja dan segala isi di dalamnya. Tak ayal lagi, ribuan orang yang sebagian besar adalah kaum buruh terbawa ambruk, tertimbun reruntuhan beton.

Meski terendam selama 8 jam, pengalaman Selim tak seburuk 1.133 buruh lain yang tewas tertimpa bongkahan beton. Juga tak semenderita Mossammat Rebecca Khatun, seorang buruh perempuan yang terpaksa kehilangan kedua kakinya, dan ibu kandungnya yang juga buruh.

“Di hari kejadian itu ibu saya menghampiri dan berkata, ‘Rebecca kamu belum sarapan. Mari kita makan sebelum mulai bekerja’. Dia pergi membeli makanan. Itulah terakhir kalinya saya melihat dia. Hanya dalam beberapa menit bangunan runtuh.” kenang Rebecca yang tertindih bongkahan beton selama dua hari itu (Shahnaz Parveen, 2014).

Di Bangladesh, kecelakaan di pabrik garmen yang menelan korban jiwa bukan peristiwa baru. 14 Desember 2010 terjadi kebakaran di pabrik pakaian olah raga untuk jenama JC Penney, VF corporation, GAP, Philips Van Heusen, Abercrombie & Fitch, Carters, Kohls, dan Target. Kecelakaan itu menewaskan 29 orang. Lima bulan sebelum Rana Plaza runtuh, tercatat ada 117 buruh tewas dalam kebakaran yang melanda pabrik garmen Tazreen di pinggiran Dhaka, Bangladesh (One Year after Bangladesh’s Rana Plaza Tragedy, has Anything Changed?, CNN, 24 April 2014). Dua bulan kemudian terjadi lagi kebakaran di Smart Export Garment Ltd, Dhaka, dan menewaskan 7 orang buruh perempuan (Bangladesh Factory that Burned had Locked Exit, Worker Alleges, CBC News, 27 Januari 2013).

Jauh sebelum peristiwa itu terjadi Asia Times melaporkan (16 Desember 2010), sepanjang tahun 2006—2009 telah terjadi 213 kebakaran pabrik garmen di Bangladesh, dan menewaskan 414 orang buruhnya. Dan dalam rentang waktu 10 tahun (2003-2013) kecelakaan yang terjadi di pabrik-pabrik garmen di Bangladesh sudah menelan korban jiwa sebanyak 2.200 orang (Calorine Leaper, 8 Things You Need To Know About Fashion Revolution Day, Marie Claire, 23 April 2014).

Kenyataan itu semakin melengkapi kesaksian Pilger kurang lebih dua puluh satu tahun lalu tentang buruknya kondisi tempat kerja buruh industri fashion di Jakarta. “Kami menemukan lebih dari 1.000 orang, kebanyakan perempuan muda bekerja dalam keadaan penuh sesak di bawah lampu neon bersuhu 40 derajat celsius. Satu-satunya ruangan ber-AC ada di lantai atas untuk para bos,” tutur Pilger usai mengunjungi sebuah pabrik garmen yang memproduksi pakaian merek GAP (John Pilger, 2001, The New Rulers of the World).

Sebagian dari kita mungkin menganggap ambruknya Rana Plaza sebagai masalah konstruksi bangunan yang buruk. Tidak salah. Tetapi, bukan satu-satunya masalah. Banyak aspek di luar itu yang memungkinkan bencana terjadi. Masalah perlindungan dan jaminan keselamatan kerja, serta pengawasan terhadap pengoperasian pabrik adalah dua di antaranya. Jika dijalankan dengan baik, besar kemungkinan kaum buruh yang menjadi korban reruntuhan Rana Plaza tak akan pernah menempati bangunan yang tak bisa menjamin keselamatan. Mereka pun tak akan diperlakukan semena-mena seperti pengalaman Selim Reza dan kawan-kawannya yang dipaksa memasuki pabrik yang tak layak huni. Atau terperangkap hingga tewas terbakar seperti yang dialami para buruh Smart Export Garment Ltd, karena pintu darurat pabriknya terkunci (CBC News, 27 Januari 2013).

Who Made Your Clothes?

Runtuhnya Rana Plaza adalah bencana terburuk dalam sejarah industri fashion di Bangladesh. Peristiwa itu mengundang kecaman masyarakat dunia, termasuk orang-orang di lingkaran industri fashion sendiri. Selama masa pencarian korban reruntuhan, berkembang pendapat di banyak media yang mendesak industri fashion lebih etis. Kejadian itu bisa dibilang telah memicu kesadaran orang bahwa isu penting di balik bencana Rana Plaza bukan semata-mata soal buruknya konstruksi bangunan, tapi jauh menukik pada aspek-aspek kemanusiaan, yang selama ini kurang mendapat perhatian luas. Kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan ekslpoitasi terhadap kaum buruh adalah isu-isu kritis di industri fashion.

Carry Somers, seorang kurator fashion dan aksesoris jenama Pachacuti menanggapi perkembangan positif itu sebagai energi baru dalam mengupayakan perubahan nyata di industri fashion. “The Rana Plaza catastrophe was a metaphorical call to arms,” kata Somers (Bruno Peters, Interview with Carry Somers, Founder of Fashion Revolution Day, 13 April 2014). Bagi Somers sendiri, upaya membenahi industri fashion ke arah yang lebih baik bukan hal baru. Selain sebagai praktisi fashion, dia pun merupakan pelopor gerakan fair trade dan ethical fashion di Inggris. Logis bila peristiwa mengenaskan di Rana Plaza kian menguatkan tekadnya untuk mengupayakan perubahan nyata di industri fashion.

Tepat setahun bencana Rana Plaza terjadi, Somers menggagas Fashion Revolution Day (FRD) yang jatuh pada 24 April. Diawali pada 24 April 2014, FRD akan diperingati setiap tahun di seluruh dunia. Melibatkan banyak kalangan. Desainer, jenama, ritel, model, para pembeli fashion, media, akademisi, penulis dan kritikus fashion, aktivis dan setiap orang yang memiliki perhatian terhadap masalah-masalah kritis di industri fashion.

FRD bukan semata-mata ditujukan untuk memperingati tragedi Rana Plaza, membantu dan menghormati para korbannya. Lebih dari itu adalah untuk mengugah kesadaran setiap orang berbuat nyata mewujudkan masa depan industri fashion yang lebih baik. Mengajak setiap orang untuk mewujudkan satu kondisi di mana kedudukan manusia, lingkungan, kreativitas dan keuntungan adalah setara. Itulah misi utama FRD (Fashion Revolution).

FRD tidak berjalan sendiri. Melibatkan dukungan beberapa organisasi yang sudah bekerja menangani berbagai isu terkait industri fashion. Perburuhan, standar fashion, perdagangan, hingga isu lingkungan. Seperti, Ethical Fashion Forum, Industriall Global Union, Clean Clothes Campaign, Global Organic Textile Standard, Textile Exchange, Green Peace International, World Fair Trade Organisation, dan Fair Trade International.

Di tahun pertamanya (2014), FRD mengangkat isu transparansi. Transparansi yang dimaksud adalah setiap perusahaan fashion (jenama) harus tahu siapa yang membuat pakaian mereka—setidaknya, di mana pakaian itu dibuat—dan menginformasikannya kepada pembeli, pemegang saham, dan para stafnya. FDR secara khusus memfokuskan pada transparansi rantai pasokan industri fashion, sehingga akan diketahui siapa saja yang terlibat dalam rantai itu. Ini menjadi penting karena berdasarkan laporan Baptist World Australia baru-baru ini, 61% perusahaan fashion tidak tahu di mana pakaian mereka dibuat; dan 93% tidak tahu asal bahan bakunya (Fashion Revolution). Kita lantas berpikir, bagaimana perusahaan sebuah brand fashion bisa mengontrol perusahaan kontraktornya yang memperlakukan buruhnya semena-mena jika dia sendiri tidak tahu di mana pabriknya berada. Kalaupun mereka tahu, apakah laporan yang diterima sesuai kenyataan atau tidak, tak ada yang bisa memastikan itu.

Pada titik ini FRD sebagai sebuah gerakan bisa efektif dan terus bergulir bila didukung oleh kita, para pembeli produk fashion. Dimulai dengan satu kesadaran bahwa pakaian yang kita kenakan setiap hari adalah hasil kerja sekian banyak orang. Bicara fashion bukan hanya bicara para designer, jenama, fashion show dan pesta-pesta setelahnya, tapi juga para buruh, tukang angkut, dan para penyedia bahan baku pakaian. Untuk itu kita bisa memulainya dengan merenungkan kalimat di bawah ini.

“It takes a lot to make a garment. Not just the bits we hear about – the designers, the brand, the shops, the catwalk shows and the parties – but also the farmers who grow cotton, the ginners, spinners, weavers, dyers, sewers and other factory workers without whom the industry would not exist. These people, the people who make our clothes are hidden from us, often at their own expense” (Fashion Revolution).

Semoga bermanfaat dan memberi arti. Terima kasih.

Fashion Revolution Indonesia

Catatan: Naskah tulisan saya ini sebelumnya dimuat di The Actual Style, 14 Mei 2014, dengan revisi judul.

×