Membangun Strategi Digital Jenama Fashion

Musim kemarau tiba. Saat yang paling menyenangkan bagi saya. Kehadirannya selalu membawa ingatan ke suasana rumah di Bandung tahun 1980-an. Saat udara di kota itu masih menyimpan sejuk, dan kerap berkabut.

Disela-sela menikmati kemarau, dalam rentang tiga hari ini beberapa pesan masuk ke ponsel saya dengan isi pertanyaan yang relatif sama, seputar pemasaran fashion di kanal digital. Pertanyaan terutama berdatangan dari kawan-kawan wirausahawan fashion—umumnya juga pemilik jenama (brand)—yang minggu lalu mengikuti pelatihan singkat dasar-dasar pemasaran fashion digital.

Jika kemarau mengingatkan ke rumah, maka pertanyaan-pertanyaan yang menghampiri saya mengusik ingatan ke tahun 2005-2014, ketika saya masih intensif menangani pengembangan content management system (CMS) dan ecommerce untuk berbagai kebutuhan dari berbagai kalangan. Kebanyakan berasal dari sektor privat—baik usaha rintisan (start-up) maupun yang sudah mapandan organisasi multilateral. Bedanya, pertanyaan yang muncul kali ini lebih spesifik: saluran pemasaran digital untuk fashion.

Tulisan ini saya buat tidak dimaksudkan untuk menjawab satu per satu pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya hanya akan memberi gambaran umum bagaimana membangun strategi digital untuk bisnis fashion, khususnya untuk jenama fashion—produsen sekaligus ritel baju, alas kaki sepatu dan tas. Untuk itu, saya akan mengemukakan satu strategi digital yang dirumuskan oleh British Fashion Council (BFC) untuk desainer dan jenama fashion Inggris. Strategi mereka sangat baik dan relevan untuk diadopsi oleh jenama-jenama fashion Indonesia.

Bagi kawan-kawan wirausahawan fashion yang di sepanjang tahun 2020 intensif mengikuti klinik fashion saya di Smesco Indonesia, saya duga tidak akan asing dengan bahasan ini, meskipun belum sempat diulas mendalam. Mudah-mudahan uraian saya berikut ini bisa menjadi rangkuman jawaban bagi semua pertanyaan.

Jenama Fashion Wajib Memiliki Rumah Maya

Jika kita merujuk pada piramida strategi digital BFC (lihat gambar di atas), website berada di posisi paling bawah; merupakan pondasi dari struktur bangunan strategi digital jenama fashion. Secara sederhana website adalah sekumpulan halaman web yang saling terhubung, terletak di bawah satu nama domain. Web atau World Wide Web mengacu pada halaman informasi yang kita akses melalui berbagai bahasa, layanan, dan browser—Chrome, Safari, Mozilla, Opera, dll. Sedangkan internet mengacu pada infrastruktur yang menghubungkan komputer di seluruh dunia (Clare Harris, 2020. The Fundamental of Digital Fashion Marketing, hal. 31), termasuk komputer yang setiap hari kalian gunakan.

Mengapa website menjadi pondasi strategi digital bagi jenama fashion? Jawabannya sederhana: website adalah rumah jenama di dunia maya, yang dalam bauran pemasaraan 4Ps (product, price, place, and promotion), website tidak lain adalah place

Di rumah itulah sebuah jenama menginformasikan berbagai hal tentang dirinya yang penting diketahui sasaran audiens. Tak hanya itu. Rumah itu pun berfungsi sebagai ruang komunikasi antara jenama dengan konsumen, dan audiens yang lebih luas tentang produk dan layanan yang ditawarkan secara interaktif (dua arah). Karena itu, memiliki website bagi jenama baru maupun lama adalah fundamental. Tanpanya orang akan sulit menemukan eksistensi sebuah jenama.

Website memang bukan satu-satunya saluran komunikasi jenama dengan khalayak luas, tetapi merupakan saluran utama yang memungkinkan sebuah jenama mengkomunikasikan dirinya secara utuh kepada publik luas. 

Begitukah?! Bukannya media sosial lebih penting saat ini?

Tentu media sosial penting bagi jenama fashion. Setidaknya dewasa ini dan beberapa tahun ke depan sebelum ada teknologi baru yang menggantikannya. Arti pentingnya adalah sebagai media yang menghubungkan jenama dan audiens. Seperti dicatat Gary Clyne (Social Media Marketing Mastery, 2019:12), “memasarkan bisnis Anda di media sosial adalah bagian penting untuk traffic web Anda.” Walaupun saat ini fitur media sosial sudah berkembang pesat dibanding sepuluh tahun lalu, fungsi utamanya tetap: sebagai ruang yang memungkinkan jenama menjangkau sasaran pelanggan untuk diajak ke rumah utama jenama, sehingga mereka bisa mengenali, memahami hingga membeli produk dan jasa yang ditawarkan jenama secara utuh.

Tak Ada Obat yang Bisa Menyembuhkan Semua Penyakit

Menjaungkau audiens melalui media sosial penting dan akan memberi dampak positif bagi bisnis sejauh jenama mampu membangun interaksi yang baik dengan audiens atau sasaran pelanggan. Itu artinya, sejak awal jenama harus sudah memiliki tujuan dan capaian yang jelas ketika berupaya menjangkau pelanggan melalui media sosial. Seperti dicatat Haris (2020:62-65) strategi pemasaran yang sukses bergantung pada kejelasan tujuan, kemampuan mengenali pelanggan dan pesaing, kemampuan mengevaluasi sumber daya dan saluran, serta kemampuan mengukur kemajuan. Pada titik inilah kita harus menyusun indikator kinerja atau KPI (key performance indicator) untuk mengukur tingkat keberhasilan dan kegagalannya. Selain untuk tujuan evaluasi, juga sebagai bahan pengambilan keputusan dalam merumuskan rencana pemasaran berikutnya.

Penting untuk dicatat, pertama, bahwa tujuan utama menggunakan media sosial adalah bukan untuk menarik follower sebanyak-banyaknya, melainkan membangun interaksi dan komunikasi dengan sasaran pelanggan agar mereka mengenali jenama kita, dan dengan senang hati menyukai serta membeli produk dan jasa yang kita tawarkan.

Kedua, media sosial memang penting untuk bisnis, tetapi tidak semua media sosial cocok untuk semua model bisnis. Sebagai contoh, Instagram mungkin cocok untuk jenama tertentu, tetapi tidak cocok untuk jenama yang lain. Hal itu bergantung pada banyak faktor, salah satunya segmen pelanggan.

Ketiga, keberhasilan pemasaran digital terkait banyak aspek, maka memiliki kejelasan tentang jatidiri jenama adalah hal mendasar. Hanya dengan itulah kita bisa merancang strategi digital yang tepat untuk bisnis kita. Kecuali prinsipnya, tidak ada strategi digital yang berlaku umum dan bisa diterapkan untuk semua model bisnis.

Muda-mudahan bermanfaat. Terima kasih.

×