Catherine Emilia dan Zero Waste Fashion

Perhatian saya sedang tertuju pada pesan-pesan di telepon seluler saat mendengar suara seorang perempuan memanggil. Aha, datang juga akhirnya! Sudah setengah jam saya menunggu. Perempuan bertubuh mungil, berkacamata minus itu tersenyum dan meminta maaf karena terlambat datang.

Penampilannya agak lain. Terakhir kali saya melihatnya di fashion show Esmod Jakarta, Jakarta Fashion Week 2015. Kala itu, rambutnya masih agak panjang. Kini dipotong pendek, cepak. Mengenakan pakaian serba hitam. Begitu pun sepatu boot-nya. Wajahnya sumringah. Selalu!

Ini adalah pertama kali saya menyengajakan diri menemuinya langsung. Rasa ingin tahu yang mendorong untuk itu. Sebelumnya obrolan kami hanya terjadi di jendela chat. Selalu menyenangkan. Apalagi jika ia berbagi link-link informasi seputar fashion untuk saya baca.

Catherine Emilia, namanya. Sejak saya melihat karyanya, tampil mewakili alumni di Graduation Esmod Jakarta 2013, ia sudah cukup mengundang perhatian. Hadir menampilkan sepuluh koleksi pakaian laki-laki yang dibuat dari kain-kain sisa yang terbuang.

Helai-helai kain sisa itu dibentuk sedemikian rupa dengan memperhitungkan keindahan dan kelayakan untuk dilekatkan pada tubuh. Hasilnya, sebuah karya seni yang unik.

Saya menaruh rasa hormat dan salut atas kerja kerasnya. Membuat pakaian dari macam-macam bahan yang bentuknya tak karuan bukanlah perkara mudah. Selain menuntut kreativitas dan keindahan, juga kemampuan berhitung dan membuat pola yang baik. Di luar itu, dan ini yang membangkitkan rasa ingin tahu saya, adalah gagasan yang mendasari dia mengerjakan itu.

Ketertarikannya pada pemanfaatan barang-barang bekas berawal dari SMA. Kala itu, ia mengerjakan projek remedial untuk pelajaran biologi. Dia memilih membuat tas dari bahan kertas bekas majalah.

Kegemaran memanfaatkan barang bekas pun terus berlanjut selama ia bersekolah di Esmod Jakarta hingga sekarang. Bedanya, gagasannya sudah jauh berkembang dan mengalami pendalaman. Berbagai bacaan yang ia serap dan kenyataan sosial yang ada di sekelilingnya kian mematangkan keputusannya memilih untuk membuat pakaian dari bahan-bahan bekas atau sisa.

Dia mengaku bahwa selama bersekolah di Esmod Jakarta, untuk soal tuntutan kreativitas dan citarasa seni bukanlah masalah besar. Itu bisa dipenuhinya dengan baik. Emil, demikian panggilannya, cukup percaya diri akan kemampuannya memenuhi itu dengan mudah.

“Idealisme itu kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda. Ya udah lah, kalo gua mati, gua mati nyoba.”

Catherine Emilia

Namun, “Saya nggak mau ngelakuin cut new fabric. Bikin baju itu terlalu gampang. Saya mau recycling,” tuturnya, mengulang ucapan yang pernah dikemukakannya pada pengajar di Esmod Jakarta saat menjelang wisuda.

Emil mengaku bahwa gagasan itu didasari keprihatinan terhadap sikap komsumtif masyarakat terhadap fashion. Ditambah dengan kegelisahannya melihat kenyataan di lingkungan orang-orang fashion.

Dia melihat ada banyak kontras antara dunia fashion yang dimasukinya, termasuk lingkungan sekolahnya dengan kenyataan sosial di sekelilingnya. Dia merasa tidak nyaman dengan itu. ”Bisa dibilang kelas satu sampai kelas tiga itu depresi yang meningkat terus loh. Kelas tiga itu puncaknya,” kenang Emil.

“Saya memang jadi eneg sama social circle dari fashion. Kemudian saya mikir, kok bisa di sini hidup glam banget. Kok, seakan-akan orang-orang di sini ini (social circle fashion-ed), kan bisa dibilang lumayan elit dibanding kebanyakan yang saya lihat di luar lingkungan fashion. Kok bisa hidupnya seperti ini, sementara ada orang di luar sana yang makan aja susah. Terus, saya juga mikir, ini potong baju mewah-mewah, habis fashion show terus wad-nya kemana? Dari situ saya look back lagi. Ada panggilan untuk koleksi barang bekas dari dulu, ya udah itu saya manfaatin” tutur perempuan yang sempat menjadi pengajar fashion history di Esmod Jakarta itu.

Keputusannya memilih jalan membuat baju dari bahan-bahan bekas dan buangan dia realisasikan dengan membangun jenama Nobis Pacem. Artinya kurang lebih “kita damai”. Dia cukup yakin dengan pilihan yang tak umum itu, meski diakuinya tidak mudah. Karena itu, untuk saat ini ia belum mampu membuat koleksi pakaian recycling yang siap pakai. Pembuatannya masih berdasarkan pesanan. Tapi ia tidak merasa ragu menghadapi tantangan itu. Mengutip kata-kata Tan Malaka, “Idealisme itu kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda. Ya udah lah, kalo gua mati, gua mati nyoba,” katanya penuh semangat.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya dimuat di The Edit Post (cetak dan daring) pada 19 Mei 2015, dengan revisi judul. Foto: Sadikin Gani

×