Fashion di Era Digital

Kehadiran teknologi digital di industri fashion jauh lebih kompleks dari sekadar website/ecommerce dan media sosial. Bukan hanya dalam aspek pemasaran dan jual beli saja, melainkan di sepanjang rantai pasokan (supply chain) industri fashion, termasuk dalam membuat ramalan tren ke depan (trend forecasting), baik dalam aspek kreativitas maupun bisnis.

Fashion dan teknologi memiliki kaitan erat dan hubungan timbal balik. Tanpa campur tangan teknologi, tak mungkin dunia fashion di era Frederick Worth bisa berkembang ke era ready-to-wear, dan era dressmaker berubah ke era designer seperti sekarang. Dalam pembuatan pakaian misalnya, kita bisa menemukan kaitannya sejak jaman pra-sejarah, saat pertama kali orang menggunakan jarum jahit tangan hingga penggunaan mesin tekstil bertenaga listrik pada abad dua puluh. Inoivasi dan penemuan baru terus berkembang. Dan kini, di abad dua puluh satu kita sudah mengenal laser cut dan teknik cetak tiga dimensi.

Dalam soal pemasaran, di tahun 1800-an orang hanya mengenal katalog cetak sebagai saluran penyebaran informasi fashion. Baru 100 tahun kemudian orang mengenal majalah dan televisi sebagai media alternatif. Perkembangan tersebut memberi dampak besar terhadap perjalanan industri fashion di sepanjang abad dua puluh (1900-1999). Majalah catak terutama, tampil sebagai saluran informasi fashion yang berperan dalam mengarahkan tren dan selera konsumen.

Waktu terus berputar, jaman pun berubah. Memasuki abad dua puluh satu peran media cetak melemah, diganti digital. Internet tampil sebagai sarana penghubung hilir-mudiknya arus informasi dan komunikasi. Perkembangan tersebut tak sesederhana peralihan perangkat keras mesin ketik ke komputer. Internet dan teknologi digital telah mengubah banyak sisi dunia fashion.

The Internet has influenced the flow of creative ideas, the search for product information, the transparency of pricing and the management of supply chains amongst as well as how and where customers buy garments.

— Mike Easey —

Kehadiran internet bukan saja memberi keuntungan pada brand-brand fashion  yang sudah lama eksis, juga membuka ruang bagi tumbuhnya brand-brand baru yang memiliki modal relatif kecil. Contoh paling sederhana, di era internet seperti sekarang, sebuah brand yang belum sanggup membangun toko, bisa dengan realtif mudah membangun ecommerce yang biayanya jauh lebih ringan dibanding membangun toko.

Contoh lain dalam hal branding. Di era majalah cetak, seorang fashion editor memegang peran penting dalam membangun brand awareness sebuah merek pakaian. Kini sudah tidak lagi. Melalui internet, setiap brand memiliki peluang terbuka untuk membangun brand awareness yang tak terbatas ruang dan waktu. Jika dulu eksistensi sebuah brand sangat bergantung pada peran fashion editor majalah, kini sepenuhnya berada di tangan brand itu sendiri. Saluran untuk itu sangat terbuka dengan biaya yang jauh lebih rendah. Website/ecommerce dan media sosial jauh lebih efektif dan efisien sebagai media pemasaran dibanding iklan di majalah dan review seorang fashion editor.

Itu adalah contoh sederhana kaitan antara fashion dan teknologi. Kehadiran teknologi digital di industri fashion bukan hanya mewujud dalam website/ecommerce dan media sosial. Pemanfaatannya pun bukan hanya dalam bidang pemasaran, melainkan di sepanjang rantai pasokan (supply chain) industri fashion, termasuk dalam membuat ramalan tren ke depan (trend forecasting)aspek kreativitas maupun komersial.

Melalui kurikulum fashion dan teknologi, kita akan sama-sama belajar dan menelusuri perkembangan dan pemanfaatan teknologi informasi yang berguna dan sesuai dengan kebutuhan bisnis fashion yang tengah dan/atau akan Anda jalani. Dengan memahami perkembangan teknologi untuk fashion, diharapkan kita pun bisa memanfaatkannya secara tepat sesuai kebutuhan.

Anda punya pertanyaan atau tanggapan atas artikel di atas, sampaikan pada kami!

Fields marked with a * are required

Topik Terkait